Persahabatan: Oman U-19 1-2 Indonesia U-19

Dengan tampilan kepala plontos Timnas U-19 Indonesia balas kekalahan 1-2 dari Oman U-19 di pertemuan pertama dengan skor yang sama 2-1.

UEFA Champions League Semifinal: Atletico Madrid 0-0 Chelsea

Chelsea bermain imbang dengan tuan rumah atletico madrid di semifinal Liga Champions Eropa, langkah ini memudahkan anak asuh jose mourinho karna Leg kedua akan berlangsung di Stamford Bridge.

Indonesia ajukan bebas visa ke jepang

Duta Besar Indonesia untuk Jepang Yusron Ihza menyampaikan permohonan kepada Perdana Menteri Jepang Abe tentang pembebasan visa bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang akan berkunjung ke Jepang.

Universitas Gunadarma

Universitas Gunadarma Kampus E

AYO BELAJAR ONLINE!

Pelajari penggunaan internet sehat.

Kamis, 28 Juni 2012

Nilai Kehidupan


Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik.

Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.

“Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini,” katanya dalam hati. Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.

Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela lembut. “Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini.”

Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang lain, tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap, kembali terdengar suara lirih si pohon, “Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin. Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah dan manusia yang telah bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati hasilnya.”

Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, “Anak muda, karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan mati di sini.”

Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir, “Bahkan sebatang pohonpun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain”.

Segera timbul kesadaran baru. “Aku manusia; masih muda, kuat, dan sehat. Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa pula bermanfaat bagi makhluk lain”.

Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.

Kalau kita mengisi kehidupan ini dengan menggerutu, mengeluh, dan pesimis, tentu kita menjalani hidup ini (dengan) terasa terbeban dan saat tidak mampu lagi menahan akan memungkinkan kita mengambil jalan pintas yaitu bunuh diri.

Sebaliknya, kalau kita mampu menyadari sebenarnya kehidupan ini begitu indah dan menggairahkan, tentu kita akan menghargai kehidupan ini. Kita akan mengisi kehidupan kita, setiap hari penuh dengan optimisme, penuh harapan dan cita-cita yang diperjuangkan, serta mampu bergaul dengan manusia-manusia lainnya.

Si Pitung


Pada jaman penjajahan belanda dahulu, di daerah Jakarta (dahulu Batavia) hiduplah seorang pria gagah yang bernama si Pitung. Dia lahir dari pasangan suami istri yang bernama pak Piun dan bu Pinah. Pekerjaan pak Piun sehari-hari adalah bertani.
Setiap hari si Pitung membantu bapaknya menanam padi, memetik kelapa dan mencari rumput untuk pakan ternaknya. Si Pitung juga tak segan untuk membantu tetangganya yang memerlukan bantuan. Tiap hari si Pitung juga sangat rajin menunaikan sholat dan puasa, bapaknya juga selalu mengajarkan si Pitung untuk bertutur kata yang santun, dan patuh kepada orang tua.
Si Pitung dan keluarganya tinggal di kampung Rawabelong, daerah kebayoran. Daerah itu adalah bagian dari daerah kekuasaan tuan tanah yang bernama babah Liem Tjeng Soen,oleh karena itu semua warga yang tinggal di situ wajib membayar pajak kepada babah Liem. Hasil pajak tanah tersebut nantinya akan disetorkan kepada Belanda.
Dalam memungut pajak, babah Liem dibantu oleh anak buahnya yang berasal dari kalangan pribumi. Anak buah yang diangkat babah Liem adalah kaum pribumi yang pandai bersilat dan memainkan senjata. Tujuannya adalah supaya para penduduk tidak berani melawan dan membantah pada saat dipungut pajak.
Hingga pada suatu hari, saat si Pitung membantu bapaknya mengumpulkan hasil panen dari sawah. Sesampainya di rumah, betapa terkejutnya si Pitung melihat anak buah babah Liem sedang marah-marah kepada bapaknya. Si Pitung lalu menghampiri bapaknya, dan bertanya kepada anak buah babah Liem, “Hey, apa salah bapak saya?” “Tanya saja sama bapakmu ini!!”, jawab anak buah babah Liem.
Anak buah babah Liem lalu pergi dengan membawa semua hasil panen yang telah dikumpulakan si Pitung dan bapaknya. Dengan nada geram, si Pitung berbicara dalam hatinya, “Nantikan pembalasanku!!”
Hingga keesokan harinya saat si Pitung berjalan menyusuri kampung, dia melihat kesewenang-wenangan anak buah babah Liem lagi. Mereka merampas ayam, kambing, kelapa, dan padi dari penduduk, tanpa rasa iba.
Sebagai warga yang merasa bertanggung jawab atas keamanan, maka si Pitung tidak tinggal diam. Si Pitung lalu menghampiri anak buah babah Liem, lalu berteriak “Hentikan pengecut!! Kenapa kalian merampas harta orang lain?!”
Para anak buah babah Liem kemudian menoleh kearah si Pitung. “Siapa kamu ini, berani-beraninya mencegah kami? Kamu tidak tahu siapa kami ini?”,teriak anak buah babah Liem.
“Saya tidak peduli siapa kalian, tapi perbuatan kalian itu sangatlah kejam dan tidak berperi kemanusiaan!”, jawab si Pitung.
Mendengar perkataan si Pitung, pemimpin anak buah babah Liem menjadi geram. Ia lalu menghampiri si Pitung, dan menyerang sekenanya saja. Ia mengira bahwa Pitung akan mudah dirobohkan. Namun, di luar dugaannya, Pitung malah mencekal lengannya dan membantingnya ke tanah hingga pingsan. Anak buah babah Liem yang lain menghentikan kesibukan mereka dan mengepung Pitung. Dengan sigap Pitung menyerang lebih dulu. Ada lima orang yang mengeroyoknya. Satu demi satu ia hajar pelipis atau tulang kering mereka hingga mereka mengaduh kesakitan. Lalu mereka menggotong pimpinan centeng yang masih pingsan dan melarikan diri.
Sebelum pergi, mereka mengancam: “Awas, nanti kami laporkan Demang.”
Beberapa hari setelah peristiwa itu, nama Pitung menjadi pembicaraan di seluruh Kebayoran. Namun, Pitung tak gentar dan tetap bersikap tenang. Ia bahkan tidak menghindar kalau ada orang yang bertanya kepadanya tentang kejadian itu.
Suatu hari, Pak Piun menyuruh si Pitung menjual kambing ke Pasar Tanah Abang. Pak Piun sedang membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Si Pitung pun pergi ke tanah abang untuk menjual dua kambingnya itu. Tanpa sepengetahuan si Pitung, ternyata ada satu orang anak buah babah Liem yang membuntutinya sejak berangkat dari rumah tadi. Hingga pada saat si Pitung mandi di sungai dan berwudhu, anak buah babah Liem tadi mencuri uang hasil penjualan kambing dari saku bajunya yang diletakkakn di pinggir sungai.
Sesampainya di rumah, si Pitung sangatlah kaget. Karena uang hasil penjualan kambing tidak ada di sakunya lagi. Dengan geram ia kembali ke Pasar Tanah Abang dan mencari orang yang telah mencuri uangnya. Setelah melakukan penyelidikan, ia menemukan orang itu. Orang itu sedang berkumpul di sebuah kedai kopi.
Si Pitung mendatanginya dan menghardik, “Kembalikan uangku!”
Salah seorang berkata sambil tertawa, “Kamu boleh ambil uang ini, tapi kamu harus menjadi anggota kami.”
“Tak sudi aku jadi anggota kalian,” jawab si Pitung.
Para anak buah babah Liem itu marah mendengar jawaban si Pitung. Serentak mereka menyerbu Pitung. Namun, yang mereka hadapi adalah Si Pitung dari Kampung Rawabelong yang pernah menghajar enam orang centeng Babah Liem sendirian. Akibatnya, satu demi satu mereka kena pukulan Si Pitung.
Sejak hari itu, Si Pitung memutuskan untuk membela orang-orang yang lemah. Ia tak tahan lagi melihat penderitaan rakyat jelata, yang ditindas tuan tanah dan dihisap oleh penjajah Belanda. Beberapa anak buah babah Liem yang pernah dihajarnya ada yang insyaf dan ia mengajak mereka untuk membentuk suatu kelompok. Bersama kelompoknya, ia merampoki rumah-rumah orang kaya dan membagi-bagikan harta rampasannya kepada orang-orang miskin dan lemah.

The Legend of Korra


The Legend of Korra is an American television series set in the Avatar universe as a spin-off of Avatar: The Last Airbender. The premiere aired on Nickelodeon on April 14, 2012. However, the first two episodes were first released online on March 24–25, 2012[6] and were available in high-definition for free on iTunes. The series is currently under production and is expected to run for two seasons and a total of twenty-six episodes,[5] with options for more.[7] The co-creators of the original series, Michael Dante DiMartino and Bryan Konietzko, will personally write all of the episodes to allow for a tighter storyline.
The new series takes place seventy years after the end of the Avatar: The Last Airbender story arc with new characters and settings.[5] The protagonist of the new series, Korra, the Avatar after Aang, is a hot-headed and rebellious young woman from the Southern Water Tribe who is "ready to take on the world".[8] The series will follow Korra as she faces an Anti-bending Revolution while mastering the art of airbending from Aang and Katara's son, Tenzin.
After the conclusion of the Hundred Year War, Aang and Zuko brought people from the four nations together and founded the United Republic of Nations, with its capital being Republic City, a large "metropolis powered by steampunk-type technology" such as cars and motorcycles.[9] Aang and Katara had three children, the youngest of which was Tenzin, the only airbender of the three siblings. Meanwhile, Toph Beifong traveled extensively to teach metalbending. After Aang's death in 153 ASC, the next Avatar, Korra, was born in the Southern Water Tribe.
At present time, seventy years after the end of the Hundred Year War, Korra, a rebellious seventeen year-old girl is set to complete her training and fulfill her role as the Avatar.[5][8] She has already mastered waterbending, earthbending, and firebending by then. At the beginning of the series, Korra travels to Republic City and starts her airbending training with Tenzin.[9][10] Tenzin himself is married to Pema. He has two daughters, Jinora, a "bookworm", and Ikki, a "motor-mouth", while Meelo, his first son, was his only son leading up to Episde 10, "Turning the Tides" , until Pema gave birth to another boy named Rohan .[11]
A view of Republic City, the main setting of the show.
However, Republic City is not what Korra imagined it to be. Anti-benders called "Equalists", who oppose the arts of bending, utilize techniques such as chi blocking to further their goals of revolution, led by Amon.[9] Korra must fight rampant crime and the Anti-bending Revolution, assisted by two brothers, Mako, a firebender, and Bolin, an earthbender. She is also joined by her animal guide, Naga, and the metalbending police force of Republic City, who are led by Toph's daughter, Lin Beifong.

Rabu, 27 Juni 2012

LUTUNG KASARUNG


Prabu Tapa Agung had led a kingdom in West Java for a long time. He was getting old and therefore wanted to choose a successor. But unfortunately, he had no son. He thought of choosing one of his daughters, Purbararang and Purbasari. But it wasn’t an easy choice. They were both very pretty and smart. The only difference was their temperament. Purbararang was rude and dishonest, while Purbasari was kind and caring. With those considerations, Prabu Tapa Agung finally chose Purbasari to be his successor.

Purbararang didn’t agree with her father’s decision. “It’s supposed to be me, Father. I’m the eldest daughter!” Purbararang said. Prabu Tapa Agung smiled. “Purbararang, to be a queen takes more than age. There are many other qualities that one must possess,” explained Prabu Tapa Agung wisely. “What does Purbasari have that I don’t?” Purbararang pouted. “You’ll find out when Purbasari has replaced me,” Prabu Tapa Agung answered.

After the discussion, Purbararang went back to her room. “Is there something wrong?” asked Indrajaya. Indrajaya is Purbararang’s future husband. “I’m upset! Father chose Purbasari as his successor and not me! I have to do something!” Purbararang said. Driven mad by her anger, she came to a witch and asked her to send rash all over Purbasari’s body. Before going to bed, Purbasari started to feel itch all over her body. She tried applying powder to her body, but it’s no use. Instead, the itching grew even worse. She didn’t want to scratch it, but she just couldn’t help it. In the next morning, there were scratch mark all over Purbasari’s body. “What happened to you?” asked Purbararang, pretending to be concerned. “I don’t know, sis. Last night, my body suddenly felt very itchy. I scratched and scratched, and this is what happened,” Purbasari answered. Purbararang shook her head. “You must have done something really awful. You’ve been punished by the gods!”

That day, the whole kingdom was scandalized. “What have you done, Purbasari?” demanded Prabu Tapa Agung. Purbasari shook her head. “I didn’t do anything that would upset the gods, Father,” she answered. “Then how can you explain what happened to your body?” Prabu Tapa Agung asked again. “If you don’t confess, I’ll banish you to the woods.” Purbasari took a deep breath. “Like I said before, I didn’t do anything wrong. And I’d rather be thrown into the woods than to confess to a deed I didn’t commit.”

After a short discussion with his advisor, Prabu Tapa Agung ordered Purbasari to be moved to the woods. Purbasari was very sad, but she couldn’t do anything to defy her father’s order. She was accompanied to the woods by a messenger. He built a simple hut for Purbasari. After the messenger left, suddenly a black monkey came to Purbasari’s hut. He carried a bunch of bananas. From behind him, some animals looked on. “Are the bananas for me?’ Purbasari asked. The black monkey nodded, as if he understood what Purbasari said. Purbasari took the bananas with pleasure. She also said thanks. The other animals that were looking on also seemed to smile. “Are you willing to be my friend?” Purbasari asked them. All the animals nodded happily. Although she was living by herself in the woods, Purbasari never lacked of supplies. Everyday, there were always animals bringing her fruits and fish to eat.

A long time had passed since Purbasari was banished to the woods, but her body still itched. At some places, her skin was even ulcerating. What am I supposed to do?” Purbasari sighed. The monkey who was sitting next to her stayed still, there were tears in his eyes. He hoped Purbasari would remain patient and strong.

One night, on a full moon, the monkey took Purbasari to a valley. There is a pond with hot spring water. The monkey suddenly spoke, “The water of this pond will heal your skin,” he said. Purbasari was surprised, ”You can talk? Who are you?” she asked. “You’ll find out, in time,” the monkey said. Purbasari didn’t want to force the monkey. She then walked to the pond. She bathed there. After a few hours, Purbasari walked out of the pond. She was shocked to see her face reflected on the clear pond water. Her face was beautiful again, with smooth and clean skin. Purbasari observed her entire body. There were no traces of any skin ailments. “I’m cured! I’m cured!” Purbasari shouted in joy. She quickly offered thanks to the gods and also to the monkey.

The news of Purbasari’s condition quickly spread to the kingdom, irritating Purbararang. She then accompanied by Indrajaya go to the woods to see Purbasari. Purbasari asked if she would be allowed to go home. Purbararang said she would let Purbasari return to the palace if Purbasari’s hair were longer than hers. Purbararang then let her hair down. It was so long, it almost touched the ground. But it turned out that Purbasari’s hair was twice longer than Purbararang’s hair.

“Fine, so your hair is longer than mine.” Purbararang admitted. “But there is one more condition you must fulfill, do you have a future husband who is handsomer than mine?” said Purbararang as she walked toward Indrajaya. Purbasari felt miserable. She didn’t have a future husband yet. So, without much thought, she pulled the black monkey beside her.

Purbararang and Indrajaya burst out, but their laughter didn’t last long. The monkey meditates and suddenly transformed into a very handsome young man, a lot more handsome than Indrajaya. “I’m a prince from a kingdom far away. I was cursed to be a monkey because of a mistake I committed. I could regain my true form only if there’s a girl who would be willing to be my wife,” said the young man.

Finally, Purbararang gave up. She accepted Purbasari as the queen, and also confessed everything she had done. “Please forgive me. Please don’t punish me,” Purbararang said, asking for forgiveness. Instead of being angry, Purbasari smiled. “I forgive you, sis,” she said. Soon after, Purbasari become queen. Beside her was the handsome prince, the former monkey known as Lutung Kasarung.

Source:
DMCA Protection on: http://www.lokerseni.web.id/2012/02/legenda-lutung-kasarung-dalam-bahasa.html#ixzz1yzZt9NmM

EXERCISE


EXERCISE:
Fill in the blanks with when, while, because, since, if, unless, before, after, wherever, although, so that, or as if.

1.   When Edison invented a lamp which conducted electricity, gas had been the chief means of lighting home and streets.
2.      I saw an old friend of mine while I was entering the building.
3.      Though his car was much too small, he decided to sell it.
4.      He won’t pass the examination unless he study harder.
5.      Wherever he went, he was warmly received.
6.      The executive acts, as if he owns the company.
7.      If I get the money on time, I can go on vacation.
8.      Although she spends a lot of money on clothes, they never seem to suit her.
9.      I have a lot of extra work to do because my assistant is on vacation.
10.  Since they moved into an expensive apartment, they have become very snobbish.
11.  When someone broke into her house and stole her jewelry, she was next door chatting with her neighbour.
12.  It’s because warm today so that I’m going to the beach.
13.  Though my uncle has worked hard all his life, he could never save up enough money to go on a long vacation.
14.  We will go to the theatre with you tonight if  we can get a baby-sitter.
15.  Don’t give this package to him before he sign a receipt for it.
16.  We’re as pleased with these new towels so that we’re going to buy some more.
17.  After Hitler believed that Germans were the master race, he set out to conquer all of Europe.
18.  When I was in South Africa last year, I learned to speak Spanish.
19.  He looks as if he hasn’t ever changed his clothes.
20.  Repairs will be made if they are necessary.

Kamis, 26 April 2012

50 Hal-hal aneh di Dunia


1. Queue adalah satu-satunya kata dalam bahasa Inggris yang dapat dibaca dengan cara yang sama ketika empat huruf terakhir dihilangkan.

2. Kumbang tu rasanya seperti apel, tawon seperti pine nuts (sejenis kacang), kalo cacing seperti daging babi goreng.

3. Dari seluruh kata dalam bahasa Inggris, kata ’set’ punya definisi paling banyak.

4. “French Kiss” kalo di Perancis namanya “English Kiss”

5. “Almost” adalah kata terpanjang dalam bahasa Inggris yang disusun mengikuti urutan Alfabet.

6. “Rhythm” adalah kata terpanjang dalam bahasa Inggris yang tidak ada huruf vokalnya

7. Tahun 1386, seekor babi dihukum gantung di depan publik di Perancis gara2 membunuh anak kecil

8. Kecoa bisa hidup selama beberapa minggu tanpa kepala

9. Tulang paha manusia lebih kuat daripada dinding semen.

10. Kita tidak bisa bunuh diri dengan cara menahan napas.

11. Di setiap benua pasti ada kota bernama “Rome”.

12. Jantung berdetak lebih dari 100.000 kali per hari.

13. Horatio Nelson, salah seorang Admiral (jenderal Angkatan Laut) legendaris di Inggris seumur hidupnya tidak pernah menemukan cara untuk menyembuhkan mabuk laut yang dideritanya.

14. Kerangka Jeremy Bentham selalu hadir di setiap pertemuan penting di University of London

15. Orang bertangan kanan rata2 hidup 9 tahun lebih lama dari yang kidal

16. Tulang iga kita bergerak sekitar 5 juta kali setahn, tiap kita bernapas!!

17. Gajah satu-satunya mamalia yang tidak bisa lompat

18. Seperempat tulang di tubuh kita ada di kaki

19. Sidik lidah tiap orang berbeda!

20. Transfusi darah pertama dilakukan tahun 1667, ketika Jean-Baptiste
mentransfusikan darah sebanyak 2 pint (kira2 1 liter) dari domba ke orang..

21.Kuku jari tangan tumbuh 4 kali lebih cepat dari kuku jari kaki

22.Debu di rumah paling banyak terbentuk dari sel kulit mati

23.Diperkirakan taun 2080 penduduk dunia bakal mencapai angka 15 miliar

24.Cewek mengedipkan mata 2 kali lebih banyak dari cowok

25.Adolf Hitler adalah seorang vegetarian dan cuman punya satu testis!

26.Madu adalah satu-satunya makanan yang tidak bisa basi.

27.Bulan yang dimulai dengan hari Minggu selalu punya “Friday the 13th.”

28.Coca-Cola kalau tidak pakai pewarna warnanya jadi hijau.

29.Rata-rata jantung landak berdetak 300 kali per menit

30.Lebih banyak orang terbunuh tiap tahun karena disengat lebah daripada digigit ular.

31.Sebatang isi pensil (pensil kayu) bisa dipake menulis sepanjang 35 mil atau menulis 50.000 kata

32.Alergi terhadap makanan/minuman yang paling banyak diderita orang adalah alergi terhadap susu sapi.

33.Onta punya 3 kelopak mata untuk melindungi matanya dari pasir gurun.

34.Posisi mata keledai memungkinkan keledai melihat keempat kakinya setiap saat.

35. 6 Bahasa resmi PBB: Inggris, Perancis, Arab, Mandarin, Rusia dan Spanyol.

36.Bumi atau “Earth” adalah satu-satunya planet di tata surya yang tidak
menggunakan nama dewa

37. Sendawa atau bersin di gereja di Nebraska, USA, adalah melanggar hukum

38. Kita dilahirkan dengan 300 tulang, tapi ketika dewasa tinggal 206.

39.Beberapa cacing akan makan dirinya sendiri kalau kelaperan dan tidak menemukan makanan.

40.Lumba-lumba tidur dengan satu mata terbuka

41.Tidak mungkin bersin dengan mata terbuka

42.Potongan permen karet di dunia tertua umurnya 9.000 tahun

43.Rekor penerbangan terlama seekor ayam adalah 13 detik

44.Queen Elizabeth I menyatakan bahwa dia adalah teladan kebersihan. Dia mandi 1 kali tiap 3 bulan, tidak peduli dia butuh atau tidak.

45.Bekicot (Slug) punya 4 hidung

46.Burung hantu adalah satu-satunya burung yang bisa melihat warna biru

47.Charles Osborne mengalami cegukan selama 69 tahun!

48.Jerapah bisa mengorek kuping sendiri dengan lidahnya yang panjangnya 21 inchi

49.Rata-rata tiap orang ketawa 10 kali sehari

50.Mata burung Onta lebih besar dari otaknya

Change the words in parentheses into noun clauses


1. ( Should we wait for him?) I wonder whether we should wait for him
2. ( Did she borrow your dictionary?) I want to know if she borrows your dictionary
3. ( Does she need any help?) I wonder if she needs any help or not
4. ( Is he having trouble?)  if he is having trouble is not surprising me
5. ( Does it belong to Jake?) I want to know if it belong to Jake
6. ( Is there life on other planets?) I wonder whether there is life on other planets or not
7. ( Will people live on the moon someday?) I wonder if people will  live on the moon someday
8. ( Is this information correct?) Could you tell me whether is this information correct
9. ( That dictionary is good?) I wonder whether dictionary that is good
10. ( Those glasses are expensive?) I don't know if those glasses are expensive